anwarsigit blog information

Berikut ini Contoh Kalimat Ambigu

Berikut ini Contoh Kalimat Ambigu

Berikut ini Contoh Kalimat Ambiguanwarsigit.com – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka .1998) kita mengelola dua ambiguitas yang berhubungan dengan ucapan. Pertama, sifat atau hal yang berarti dua; kemungkinan yang memiliki dua arti. Kedua, kemungkinan adanya lebih dari satu kepentingan dalam suatu kata, paduan kata, atau kalimat. Jadi kalimat ambigu akan menjadi kalimat yang memiliki lebih dari satu pengertian atau memiliki banyak arti.

Ambiguitas atau ambiguitas merupakan bagian dari pentingnya sebuah ekspresi. Ambiguitas dapat terjadi dalam berbagai bentuk bahasa, frasa, klausa, dan kalimat.

Ambiguitas (hal) dari ambigu (deskriptor); 1 sifat atau hal yang berarti dua hal: kemungkinan yang memiliki dua arti; taksa; 2 ketidakpastian; ketidakjelasan; 3 kemungkinan memiliki lebih dari satu kepentingan dalam sebuah karya sastra; 4 kemungkinan memiliki lebih dari satu makna dalam sebuah kata, campuran kata, atau kalimat (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1990: hal.27).

Ambiguitas berasal dari bahasa Inggris, to be specific ambiguity yang berarti suatu konstruksi yang dapat diartikan lebih dari satu kepentingan. Ambiguitas sering juga disebut ambiguitas (Alwi, 2002:36). Taxability dapat diuraikan atau diuraikan memiliki lebih dari satu kepentingan untuk konstruksi sintaksis. Jelas bahwa ambiguitas yang mengakibatkan peristiwa lebih dari satu kepentingan dapat terjadi ketika diucapkan atau ditulis. Bila tuturan lisan mungkin diharapkan dengan kelafalan yang agak lambat, sedangkan untuk tuturan tertulis, jika terdapat beberapa tanda aksentuasi, kita akan menguraikan suatu kalimat atau kata menjadi berbeda dari tingkat kepentingan yang diinginkan oleh penulis.

Ciri-ciri kalimat Ambigu

Ciri-ciri yang menyebabkan suatu kalimat menjadi ambigu:

  • Pelepasan kata
  • Keterangan mendahului
  • Kontaminasi kerancuan
  • Letak jeda
  • Asal usul
  1. Secara fonetik kegandaan makna terjadi karena adanya persamaan bunyi pada sebagian suku katanya.
    Contohnya:
    ‘beruang’ bisa bermakna orang yang mempunyai uang atau nama binatang
  2. Secara leksikal kegandaan makna terjadi karena adanya dua kata yang memiliki bentuk yang sama.
    Contohnya :
    ‘genting’ bisa bermakna gawat atau nama atap.
  3. Secara gramatikal kegandaan makna terjadi karena kata itu bergabung dengan kata-kata lain dan umumnya berbentuk kalimat.
    Contohnya :
    1. Istri pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya.
    2. Saya telah memiliki buku sejarah demokrasi yang baru.
    3. Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.

Kalimat-kalimat di atas memiliki makna ambigu (ganda) sehingga dapat membingungkan orang yang membacanya.

  • Pada kalimat 1, siapakah yang gemuk, pegawai atau isteri pegawai? Kalimat itu memang mengandung dua makna:
    • pertama, yang gemuk adalah pegawai; atau
    • kedua. yang gemuk adalah isteri pegawai.
  • Pada kalimat 2, apanya yang baru, bukunya, sejarahnya, atau demokrasinya? Kalimat itu bisa bermakna ambigu:
    • pertama, bukunya yang baru;
    • kedua, sejarahnya yang baru; dan
    • ketiga, demokrasinya yang baru.
  • Pada kalimat 3, juga terdapat makna ambigu:
    • pertama. ada dua kali sumbangan yang diberikan oleh sekolah itu; atau
    • kedua. ada dua sekolah yang menyumbang.

Untuk menghindari ambiguitas makna,  kalimat 1 dapat dirumuskan sbb.:

  • Jika yang gemuk adalah isteri pegawai, maka dapat ditulis sbb.: Istri-pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya. Penggunaan tanda hubung (-) dapat memperjelas bahwa kedua kata itu (isteri dan pegawai) merupakan satu kesatuan, sehingga kalimat itu bermakna yang gemuk adalah istri pegawai. Atau dapat pula dirumuskan sbb.: Pegawai yang isterinya gemuk itu berasal dari Surabaya.
  • Jika yang gemuk adalah pegawainya, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Pegawai yang gemuk itu istrinya dari Surabaya.
READ ALSO :   Berikut Doa Mandi Sebelum Puasa Bulan Ramadhan

Untuk kalimat 2:

  • Jika yang baru adalah bukunya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku-sejarah-demokrasi yang baru, atau Saya telah memiliki buku baru tentang sejarah demokrasi.
  • Jika yang baru adalah sejarahnya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku tentang sejarah-demokrasi yang baru.
  •  Jika yang baru adalah demokrasinya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku sejarah tentang demokrasi yang baru.

Untuk kalimat 3:

  • Jika yang dimaksud ada dua kali sumbangan, ditulis sbb.: Sumbangan yang kedua sekolah itu telah kami terima.
  • Jika yang maksud ada dua sekolah yang menyumbang, ditulis sbb.: Sumbangan kedua-sekolah itu telah kami terima.

Jenis bentuk Kalimat Ambigu

Kalimat ambiguitas dibagi menjadi 3 jenis antara lain ambiguitas fonetik, ambiguitas gramatikal, ambiguitas leksikal, mah mari kita bahasa satu persatu agar lebih jelas.

  • Ambiguitas Fonetik

Ambiguitas fonetik adalah ambiguitas yang memiliki bunyi yang sama dalam artikulasi. Kita sering mendengar ambiguitas fonetik dalam percakapan biasa, tetapi kita tidak memahaminya. Model: Jangan katakan padanya!

Kalimat di atas terlihat janggal pada kata tahu. Kata tersebut membuat kalimat memiliki konotasi dua sisi. Menyadari apa yang tersirat adalah tahu sebagai makanan atau tahu yang artinya memberi data. Oleh karena itu, dalam ambiguitas fonetik, kita tidak dapat mendengarkan hanya satu kalimat, kita harus mendengarkan seluruh percakapan.

  • Ambiguitas Gramatikal

Ambiguitas sintaksis adalah ambiguitas yang terjadi karena adanya percampuran antara kata dengan kata. Ambiguitas semacam ini harus dilihat ketika itu sebagai kata tetapi ketika diubah sebagai kalimat, ambiguitas sintaksis tidak terlihat. Kita harus melihat ilustrasi dari kalimat ambiguitas semacam ini. Model: Orang tua

Kata orang tua di atas memiliki nuansa yang beragam, antara lain orang tua atau ayah dan ibu. Namun, jika kalimat itu sebagai kalimat, ambiguitas saat ini tidak terlihat.

  • Ambiguitas Leksikal

Ambiguitas leksikal ialah keambiguan yang terjadi pada kata. Dalam setiap bahasa terutama Bahasa Indonesia banyak kata yang memiliki makna lebih dari satu. Mari kita lihat contoh dibawah ini. Contoh : Kata ambigu= “Bulan”

  • Malam ini akan datang bulan purnama “Datang bulan bermakna Asli”.
  • Aku datang bulan setiap awal bulan “Datang bulan berupa saat datang menstruasi pada wanita”.

Faktor-Faktor Penyebab Ambiguitas

Setelah kami menganalisis sumber-sumber berita tentang keambiguan, kami dapat memprediksi ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya keambiguan, yaitu

  • Faktor Morfologi

Morfologi dalam Bahasa Indonesia merupakan salah satu cabang dalam ilmu yang mempelajari tentang perubahan bentuk kata yang dapat menimbulkan makna baru yang lebih luas. Faktor penyebab morfologi yang pertama ialah morfologi yaitu penyebab yang berasal dari pembentukan kata itu sendiri.

Contoh “Masuk angin”

  • Aku sedang masuk angin sehingga badanku menggigil.
  • Ketika aku membuka pintu, masuklah angin kedalam rumah dengan sangat kencang.
  • Pada kalimat kedua dapat dilihat maksud dari kata masuk angin berubah bentuk menjadi masuklah angin yang berarti ada angin yang masuk kedalam rumah.
  • Contoh tersebut menunjukkan bahwa keambiguan dapat disebabkan dari pembentukan kata yang ada didalam kalimat.

a Tipe Afiks
Suatu bentuk yang di dalam suatu kata merupakan unsure langsung, bukan bentuk bebas serta memiliki kesanggupan melekat pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata baru ; imbuhan.

  1. Prefiks ter-
    Prefiks ter- memiliki arti dapat, tak sengaja, paling, sampai ke-. Pada kalimat dibawah ini misalnya :
    Pil itu tertelan oleh saya.
    Dapat berarti akhirnya dapat ditelan atau mungkin juga berarti tak sengaja ditelan.
  2. Prefiks ber-
    Prefiks ber- mempunyai arti menghasilkan, mempunyai, mengucapkan, dan melakukan.
    Taman bunga itu kini telah berkembang.
    Berkembang dalam kalimat ini bisa berarti telah menghasilkan kembang atau berubah keadaan menuju kearah lebih baik.
  3. Prefiks pe-
    Prefiks pe- memiliki dua arti, dapat berarti orang yang melakukan pekerjaan dan juga alat yang digunakan melakukan pekerjaan. Seperti beberapa contoh berikut, yang menyebabkan keambiguan adalah kedua makna yang dimiliki oleh prefiks pe-.
    Pemijat itu tidak bekerja dengan baik.
    Dimana pemukulnya?
  4. Sufiks –an
    Sufiks –an bila digunakan dalam kalimat dapat berarti hasil, cara, alat, apa yang di…. Oleh sebab itu, keambiguan dapat terjadi karena berbagai arti tersebut. Sebagai contoh:
    Pengukurannya sangat akurat.
    Telitilah agar penghitungannya tepat.
    Pukulannya memang hebat.
    Kata pengukuran dapat berarti cara mengukur, alat pengukur atau hasil pengukuran. Kata penghitungan dapat berarti cara menghitung atau hasil penghitungan. Sedangkan kata pukulan dapat berarti cara memukul, alat memukul, dan hasil memukul.
READ ALSO :   Doa Mandi Wajib Sebelum Puasa

b. Tipe Leksikon (Faktor kata)

  • Kepolisemian
    Suatu bentuk kata yang mempunyai makna lebih dari satu sehingga mengacu pada kalimat ambigu
    – Aku sedang mencari ilham. (nama orang, inspirasi)
    – Saya permisi ke belakang. (lawan dari depan, toilet)
  • Kehomoniman
    Suatu bentuk kata yang sama lafal atau ejaannya tetapi memiliki makna yang berbeda. Kata yang homonim sangat berpotensi menyebabkan keambiguan dalam kalimat berbahasa Indonesia. Seperti contoh dibawah ini.
    – Orang itu tidak ingin tahu. (nama makanan dari sari kedelai, mengerti).
    – Saya yakin itu pasti bisa. (racun yang dimikili oleh ular, dapat terselesaikan)
  • Preposisi
    Misalnya preposisi ke- dalam kalimat berikut :
    – Saya keberatan jika keputusannya seperti itu. (keberatan dapat berarti tidak menyetujui atau ke daerah yang namanya Beratan)
    – Keranjang itu akan dibawa ke ranjang.
    – Bawa kemeja itu dan letakkan disana
    Apabila kalimat kedua di ucapkan maka akan menimbulkan keambiguan, tapi jika dituliskan akan terlihat perbedaannya.
  • Antonim
    Penggunaan kata yang dinegatifkan akan mengakibatkan sebuah kalimat menjadi ambigu.
    – Joni tidak cukup pintar
    – Sepertinya orang itu sudah tidak muda lagi
    Keambiguan dapat di lihat dari kata yang bercetak miring, kata minggu bisa saja berarti senin, selasa, rabu, dan sebagainya. Sedangkan tidak muda belum tentu berarti tua sekali.
  • Akronim dan kependekan
    Akronim dapat menimbulkan keambiguan jika penggunaan atau pengucapannya tidak tepat.
    – Dodik sangat berwibawa dalam menjalankan tugas-tugasnya.
    Kata dodik dapat diartikan sebagai nama orang atau bisa juga Komando Pendidikan.
  • Faktor Sintaksis/Susunan Kata

Sintaksis merupakan pengetahuan tentang susunan kata dan kalimat ( ilmu tata bahasa). Sintaksis atau penyusunan kata dapat menyebabkan adanya keambiguan pada suatu kata didalam kalimat.

a. Tipe kata majemuk dan ungkapan.

  • Siapa pun yang hadir di sini boleh bersuara ( kata ‘bersuara’ dapat bermakna mengeluarkan suara atau ‘menyampaikan aspirasi’).
  • Orang-orang dibalik layar itu bekerja sangat keras demi kesuksesan produksinya (bekerja di balik layar (layar tancap) atau sutradara dan orang-orang dibalik layar(film))
  • Saat ini dia sedang gulung tikar (sedang menggulung tikar atau bangkrut)
  • Real Madrid kalah, penonton gigit jari (menggigit jarinya atau menyesal)

b. Tipe kata ulang
Kata ulang juga memungkinkan terjadinya penafsiran ganda (ambigu).

  • Budhi berdagang buah-buahan (kata buah-buahan dapat ditafsirkan bermacam-macam buah atau buah tiruan).
  • Kita akan mencoba bisnis kacang-kacangan (bisa bermacam-macam jenis kacang atau sesuatu yang menyerupai kacang)

Contoh “Keras Kepala”

  • Anak itu sangat keras kepala sehingga tidak bisa dinasehati.
  • Limba memiliki kepala keras seperti batu diantraksinya tadi malam.
  • Pada kalimat kedua keras kepala berubah susunan katanya menjadi kepala keras yang berarti kepala yang keras.
  • Faktor Struktural

Keambiguan dapat disebabkan struktur pada kalimat yang dibagi atas beberapa bagian antara lain struktur frasa dan struktur kalimat. Keambiguan suatu kata dapat dipengaruhi dari struktur kata pada kalimat tersebut.

READ ALSO :   Berikut ini Harga Sony Xperia E5 Spesifikasi Tanggal Rilis

a. Struktur Frasa

Frase adalah unit sintaksis sebagai kombinasi kata non-predikatif. Batasan ini digunakan untuk membedakan antara frase dengan kalimat (klausa) karena kalimat merupakan perpaduan kata-kata yang bersifat predikatif. Kalimat dengan berbagai makna yang disebabkan oleh struktur frasa, misalnya:

  • Istri kopral yang ramah itu mengenakan baju biru.
    Istri kopralnya yang ramah atau kopralnya yang ramah.
  • Itu buku Grafindo.
    Itu buku milik grafindo, itu buku karangan grafindo atau itu buku tentang grafindo.

b. Struktur Kalimat

Struktur kalimat merupakan salah satu penyebab ketidakjelasan pemahaman makna sebuah kalimat. Meskipun banyak duplikasi ini pada akhirnya akan mendorong duplikasi kalimat, tetapi ambiguitas karena struktur kalimat perlu ditentukan karena ganda ini harus diketahui di seluruh kalimat.

Contoh :

  • “Pelantikan Dekan baru diselenggarakan di Kampus Jatinangor”
  • Pelantikan-Dekan baru diselenggarakan di Kampus Jatinangor.
  • Pelantikan Dekan-baru diselenggarakan di Kampus Jatinangor.
  • Pelantikan untuk Dekan baru diselenggarakan di Kampus Jatinangor

Contoh Kalimat Ambigu dan penjelasannya

  • Sumbangan ketiga perusahaan tersebut sudah kami terima.

Perhatikan, kalimat di atas adalah kalimat ambigu. Lihat kalimat ketiga dari sumbangan organisasi. Yang penting pertama, donasi ini merupakan donasi dari tiga perusahaan. Kepentingan kedua, organisasi telah memberikan untuk ketiga kalinya.

Untuk menghindari ambiguitas, jika yang tersirat adalah signifikansi pertama maka kalimat di atas benar, tetapi jika itu adalah kepentingan kedua maka kalimat di atas harus diikat dengan tanda hubung sebagai pemisah artikulasi karena kita telah mendapatkan kontribusi dari tiga perusahaan.

Bagaimana? Apakah Anda sudah mulai memahami apa itu kalimat ambigu dan contoh kalimatnya? Ternyata kita sering menemukan dan menggunakannya biasa saja, bukan? Baiklah, kita harus membahas ilustrasi lain dari kalimat ambigu agar kita lebih memahami kalimat ambigu dan menghindari salah tafsir.

  • Tambal ban 200 meter

Kalimat di atas merupakan kalimat ambigu. Apa pentingnya di sini? Baiklah kita harus berdiskusi. Kepentingan pertama adalah ada tempat untuk memasang ban dengan ukuran 200 meter. Signifikansi kedua, ada perbaikan ban sejauh 200 meter. Dari kalimat kedua dapat dipastikan bahwa arti penting yang dimaksud adalah arti kedua karena cukup cerdas. Jadi tidakkah seharusnya sesuatu dikatakan tentang kepentingan pertama? Abaikan saja karena tidak sesuai dengan keadaan unik dan hampir tidak mungkin.

Sudah mulai pahamkan? Baiklah, kita tambah satu lagi contohnya ya. Biar makin jelas-sejelas-jelasnya.

  • Anak pejabat yang korup itu sekarang sudah di hotel pordeokan.

Kalimat di atas merupakan kalimat ambigu. Untuk alasan apa disebut demikian? Ya! Itu benar karena memiliki nuansa multifaset. Siapa yang jahat? Anak dari otoritas atau otoritasnya? Kita harus mendiskusikan pentingnya kalimat ketiga ini. Signifikansi pertama adalah bahwa orang yang merosot adalah anak penguasa.

Oleh karena itu, kalimat di atas harus diberi kombinasi jika makna awalnya adalah sebagai berikut: “anak penguasa yang jahat itu sekarang di penginapan pordeokan”. Arti kedua, degenerasi adalah otoritas. Jika pentingnya kalimat kedua ini tersirat maka kalimat di atas benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.